Panen Bawang di Batulesa, Dokter Jusi Bilang Petani Itu Bos

KUPANG, GSS – Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi NTT, Ny. Asti Lakalena melalui dr. Jusi Kusuma Wardhani bersama Ketua Literasi NTT, Poli Do melakukan panen raya bawang merah di Batulesa, Desa Sumlili, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang.

Panen raya bawang merah tersebut didampingi oleh Wakil GM KSP Kopdit Swasti Sari, Kasmir Kopong bersama pengurus, pengawas dan manajemen dari Cabang Kota Kupang. Kegiatannya dilaksanakan pada Sabtu 13 September 2025 siang.

Panen bawang merah itu berlangsung di atas lahan milik Buce Dethan, seorang petani bawang binaan Swasti Sari. Buce merupakan salah satu anggota kelompok budidaya bawang merah yang mendapatkan kucuran dana kredit dari Swasti Sari, salah satu koperasi terkemuka di daerah ini.

Pada momen itulah, dokter Jusi yang adalah Ketua Pokja IV Tim Penggerak PKK Provinsi NTT memberikan dorongan kepada petani bawang Batulesa agar terus bekerja optimal, dengan selalu membaca peluang pasar atas komoditi pertanian yang dihasilkannya.

Saat ini, katanya, bawang merah merupakan salah satu produk pertanian yang demikian diminati, tak hanya konsumen tetapi juga para pengusaha.

Dalam situasi tersebut, lanjut dia, para petani harusnya berani mematok harga, tanpa intervensi dari pihak manapun. Pasalnya, petani merupakan pemilik komoditi tersebut. Petani merupakan produsen yang punya kewenangan penuh dalam menentukan sendiri harga barang yang dipunyainya.

“Mengapa ini harus dilakukan? Karena kita adalah bosnya. Saya adalah bos atas barang yang dihasilkan, apalagi dari atas lahan garapan sendiri, dari atas lahan yang dimiliki sendiri. Apalagi selama proses budidaya berlangsung, semua biaya yang dikeluarkan, bersumber dari uang sendiri.”

“Makanya mulai saat ini, bapa ibu harus berani menentukan sendiri semua harga pasar atas produk yang dihasilkan sendiri, seperti halnya bawang merah yang kita panen. Sekali lagi, ini harus dilakukan karena saya adalah bosnya. Saya petani, saya bos,” ucap dokter Jusi membakar semangat para petani.

Bak gayung bersambut, pernyataan motivasi dokter Jusi pun  mendapat apresiasi luar biasa. Para petani bawang merah binaan KSP Kopdit Swasti Sari itu dengan sumringah, memberikan aplaus panjang atas pernyataan tersebut.

Dengan wajah berseri-seri mereka tak henti-hentinya bertepuk tangan. Raut wajahnya memperlihatkan betapa mereka gembira atas panenan yang dihasilkannya. Bahkan mereka bangga, karena kerja kerasnya disuport pula oleh pemerintah melalui Tim Penggerak PKK Provinsi NTT.

Sementara itu, Wakil GM KSP Kopdit Swasti Sari, Kasmir Kopong, juga tak bisa menyembunyikan rasa bangganya, atas capaian para petani bawang Batulesa dalam musim panen kali ini. Ia gembira, karena tuaian petani menjadi bukti kalau hasil tak bisa memungkiri proses melelahkan yang telah dilakukan petani.

“Hasil tak bisa memungkiri proses. Bahwa bawang merah yang dipanen kali ini, merupakan bukti kalau para petani sudah bekerja keras mulai dari penyiapan lahan, penanaman benih, menyiraminya, merawat hingga akhirnya mendapatkan hasil sebagaimana yang dipanen saat ini. Ini sungguh luar biasa,” ujar Wakil GM.

Untuk diketahui, bawang merah yang dipanen ini, dibudidayakan oleh 16 orang petani. Komoditi tersebut ditanam sejak awal Juli 2025 lalu. Dalam usaha tersebut, para petani mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.

Biaya tersebut disuport oleh KSP Kopdit Swasti Sari. Nilainya sekitar Rp 300 juta atau tepatnya pada angka Rp 267.000.000. Besarnya biaya tersebut mendorong petani untuk bekerja keras, merawatnya sampai menuai hasil.

Ada pun bawang merah yang dipanen tersebut mencapai 51 ton lebih dengan kualitas super. Menariknya, adalah komoditi itu diserbu para pengusaha dengan membelinya langsung di kebun petani. Harganya pun bersaing, yakni Rp 21.000 per kilogram.

Fakta itu membenarkan bahwa petani memang bos atas produk yang dihasilkannya. “Ingat, kita ini bos. Petani itu bos. Bos atas produk yang dihasilkan sendiri. Tapi ingat, jaga selalu kualitas, jaga mutu, karena mutu menentukan harga.”

“Sekali lagi, kita bisa bertepuk dada dengan hasil seperti ini. Kita bangga karena apa yang kita lakukan, telah membawa kita pada hasil yang luar biasa, pada kehidupan yang lebih baik.”

Perlu pula diingat bahwa salah satu aspek penting, adalah pengelolaan produk pasca panen. Artinya, bawang merah yang dipanen saat ini, bisa dijual langsung kepada pembeli, tapi bisa juga dijual dengan rupa lain, semisal bawang goreng, bawang bumbu dan lainnya. Untuk itu, rebutlah peluang baru pasca panen, yakni tidak hanya menjualnya secara gelondongan, tetapi dijual dalam bentuk bawang goreng, bumbu dan lainnya. “Tapi untuk hal ini, selalu bersama Swasti Sari. Kami juga minta agar Swasti Sari bisa menjadi jembatan atas aneka kesulitan yang dialami petani,” pesan dokter Jusi. (frans krowin)